background twitter.jpg
Breaking News
  • Aktipkan Siskamling Cegah Kelompok Radikalisme
  • Hati – Hati, Ratusan Telur Busuk Beredar Di Pasar Bogor
  • PPDB 2017 Dimulai Minggu Depan, Diurutkan Mulai Dari PAUD
  • Kritik Walikota Bogor BEM Demo Ke Gedung Wakil Rakyat
  • Bus Wisatawan SMK Panca Karya Kecelakaan,Tiga Orang Tewas Dan Belasan Alami Luka
  • KPU Gelar Seminar Isu Isu Strategis: DPT Masih Jadi Masalah Dalam Pilkada Dan Pileg,
  • Bosel Ingin Mekar Dari Kab.Bogor, Isman Kadar Terpilih Jadi Ketua Presidium
  • Niat Di Gaet Hari Ortega Dalam Pilbup 2018, FF buat WF

Atasi “Silent Killer” , Bersahabat Dengan Diet Rendah Garam

Article
Berita Terkait

FOKUSBOGOR.com, High Blood Pressure atau dikenal dengan hipertensi adalah penyakit yang banyak menjangkiti masyarakat di berbagai dunia. Hampir semua orang mulai dari remaja sampai usia tua takut akan penyakit ini.

Saya melihat keberadaan penyakit hipertensi terjadi pada masyarakat semua usia ketika berada di salah satu rumah sakit di daerah Jakarta, seorang wanita remaja memasuki Unit Gawat Darurat karena mengalami hipertensi. Hal ini sedikit menjawab mengapa hipertensi banyak menjangkiti masyarakat di belahan dunia manapun.

Istilah hipertensi atau dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai tekanan darah tinggi, menjadi salah satu penyakit yang berkelanjutan dalam jangka waktu panjang. Seperti yang dikatakan oleh Joint National Committee on Detection (JIVC) hipertensi sebagai tekanan yang lebih tinggi dari 140/90 mm Hg dan diklasifikasikan sesuai derajat keparahannya, mempunyai rentang dari tekanan darah (TD) normal tinggi sampai hipertensi maligna. Sedangkan keadaan tekanan darah normal adalah 120/80 mmHg.

Apakah Anda Menderita Hipertensi?

Di Indonesia, berdasarkan laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasionaltahun 2007 yang dibuatoleh BPPK Departemen Kesehatan mengatakan bahwa 3 dari 10 orang Indonesia mengalami hipertensi. Secara umum, Anda pasti berpikir bahwa setiap penyakit pasti memiliki gejala dan penyebab sebagai pendeteksi awal. Sayangnya, hamper sebagian besar orang yang memiliki tekanan darah tinggi tidak menyadari penyakitnya.Ini karena hipertensi adalah penyakit yang tidak memiliki gejala.

Namun, menurut MalonaYosephine, Mahasiswa Kedokteran, Universitas Kristen Indonesia memberikan gejala awal penyakit hipertensi.

“Hipertensi itu jarang banget ada gejalanya makanya disebut silent killer, biasanya orang yang udah sampai pusing-pusing atau mimisan itu udah sangat tinggi tekanan darahnya,” ujarnya.

Meski hipertensi umumnya tidak bergejala, bukan berarti penyakit ini tidak berbahaya..Ketika seseorang mengalami hipertensi, ia akan merasakan sakit yang luar biasa khususnya di bagian kepala dan tengkuk. Penderita hipertensi biasanya hanya terbaring lemas menahan rasa sakitnya sebelum akhirnya dibawa kerumah sakit.

Hipertensi juga dapat menyebabkan kerusakan pada organ tubuh seperti jantung. Walaupun gejala hipertensi tidak bias diketahui, namun penyakit hipertensi dapat terjadi karena beberapa penyebab. Diantaranya, usia, keturunan, obesitas, dan kurang berolahraga.

Lalu, apakah hanya itu saja yang menyebabkan hipertensi? Di sisi lain, Mahasiswa Ahli Gizi, Politeknik Kesehatan Jakarta 2, Tamara Adelya menjelaskan secara detail penyebab penyakit hipertensi ini.

“ Hipertensi itu penyebabnya ada yang primer sama sekunder. Kalau primer biasanya karena usia, keturunan, merokok, obesitas, kurang olahraga, konsumsi garam berlebihan, dan terlalu banyak mengkonsumsi minuman keras. Kalau penyebab sekunder itu dari suatu penyakit yang punya efek tertentu yang akhirnya menyebabkan hipertensi, penyakitnya itu kayak diabetes, penyakit ginjal, lupus, dll,” ungkapnya.

Oleh karena itu, setiap orang dianjurkan untuk rutin melakukan pemeriksaan tekanan darah setiap dua tahun sekali untuk mengetahui apakah Anda menderita penyakit hipertensi atau tidak.

Diet RendahGarambagiPenderitaHipertensi

Tidak ada penyakit yang tidak bias diatasi termasuk dengan penyakit hipertensi. Bagi seseorang yang menderita hipertensi sangat dianjurkan untuk melakukan diet rendah garam. Sebuah sumber jadiberita.commengatakan bahwa rata-rata orang Asia mengkonsumsi garam 2x lipat lebih banyak dari batas rekomendasi, yaitu 12 gr/hari.

Anjuran normalnya adalah 6 gr/ hari atau 1 sdt garam (mengandung kurang lebih 2000 mg natrium). Konsumsi garam berlebihan menyebabkan kadar garam di dalam tubuh terlalu tinggi. Kondisi ini menyebabkan keseimbangan cairan tubuh terganggu. Akibatnya, terjadi retensi garam dan air dalam jaringan tubuh (endema) dan meningkatkan tekanan darah (hipertensi).

Untuk itu, sangat diperlukan diet rendah garam bagi penderita hipertensi. Diet rendah garam adalah mengurangi makanan yang mengandung kadar natrium tinggi seperti makanan kaleng, snack yang asin, atau makanan yang menggunakan kecap. Tujuan dari diet rendah garam ini adalah membantu menghilangkan retensi garam atau air di dalam jaringan tubuh.

Mengapa perlu melakukan diet rendah garam bagi penderita hipertensi? Mahasiswa Ahli Gizi, Universitas Pembangunan Nasional, Rahmayati Fajrin mengungkapkan alasannya.“ Karena natrium salah satu resiko yang ikut berperan terjadinya hipertensi. Jadi, natrium yang ada di garam inikan bermanfaat buat menjaga regulasi volume dan tekanan darah, kandungan garam yang tinggi bias ganggu kerja ginjal. Nah, kalau mengurangi konsumsi garam seenggaknya udah mengurangi resiko hipertensi karena aliran pembuluh darahnya tidak deras melainkan normal,” ujarnya.

Pada penderita hipertensi disarankan untuk mengkonsumsi garam kurang dari 1500 mg per harinya. Selain itu, penderita hipertensi biasanya harus banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung sumber protein hewani seperti ikan dan telur karena protein hewani mengandung jumlah garam yang tidak banyak. Dengan diet rendah garam ini diharapkan jumlah garam yang dikeluarkan tubuh sama dengan jumlah garam yang dikonsumsi. Jadi, atasi hipertensi dengan diet rendah garam sebelum menyerang organ tubuhlainnya.

Penulis :  Yuli Nurhanisah 

Mahasiswa  Politeknik Negeri Jakarta

 

 

 

Pages: << First | < Prev | 1 | Next > | Last >>


Komentar Kosong

Komentar Kosong Artikel Ini Belum Memiliki Komentar Satu pun

Silahan isi form komentar dibawah untuk meninggalkan komentar pada artikel ini