iklan_atas (1).jpg
Breaking News
  • Menteri BUMN Banyak Perkotaan Tak Mimikirkan Transportasi Publik
  • Peringati HUT RI Ke 72, Antam Santuni Dua Penderita Lumpuh Layu dan Hydrocephalus
  • Peringati Hari Pramuka : Wali Kota Sematkan Medali Secara Simbolis
  • Kejuaraan 234 Challenge Body Contes 2017 Mampu Menjaring Bibit Atlet Berprestasi
  • Balaikota Bogor Kembali Didatangi Puluhan Mahasiswa
  • Disnakertrans Prov Jabar Dan Pemkot Bogor Gelar Bursa Kerja Ekspo 2017
  • Ratusan KIM Se Kecamatan Caringin Melek TI
  • Ratusan Warga Pasir Jaya Dilatih Mengolah Limbah Sampah

Jangan Dijauhi Peran Keluarga Penting Pada Penderita Gangguan Jiwa

Article
Berita Terkait

BOGOR, FOKUSBOGOR.com, Gangguan jiwa atau mental illness adalah kesulitan yang harus dihadapi oleh seseorang karena hubungannya dengan orang lain, kesulitan karena persepsinya tentang kehidupan dan sikapnya terhadap dirinya sendiri-sendiri (Djamaludin, 2001).

Gangguan jiwa menurut Depkes RI (2000) adalah suatu perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa,yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran sosial.

Perubahan sikap pada penderita gangguan jiwa tak jarang mendapat perlakuan buruk dari masyarakat atau keluarganya sendiri , misalnya dicemooh, dipukuli, dijauhi, atau bahkan dipasung. Mereka menganggap penderita gangguan jiwa tidak dapat disembuhkan, padahal stigma atau anggapan itu adalah salah. Penderita gangguan jiwa sangat membutuhkan dukungan dari masyarakat sekitar, terutama keluaga untuk kesembuhannya.

Peran keluarga untuk kesembuhan para penderita gangguan jiwa sangat dibutuhkan, karena keluarga adalah orang terdekat yang dianggap paling banyak tahu kondisi pasien serta dianggap paling banyak memberi pengaruh pada pasien.

Sama halnya dengan yang dikatakan oleh Buchanan (1982) dalam Keliat (1995) mengatakan bahwa keluarga adalah tempat dimana individu memulai hubungan interpersonal dengan lingkungannya. Keluarga merupakan institusi pendidikan utama bagi individu untuk belajar dan mengembangkan nilai, keyakinan dan perilaku.

dr. Wijaya Aji, Sp.KJ. mengatakan pencegahan atau penyembuhan penderita gangguan jiwa dimulai dari keluarga. Saat anak dari rahim berkembang baik dan dilahirkan dalam kondisi baik, maka harus diasuh dengan baik, seperti memberikan perhatian, memberikan pengetahuan, memberi hiburan, memberi gizi yang baik, dll , sehingga dapat menjadi manusia yang matang.

Tak hanya keluarga, peran masyarakat juga dapat menunjang kesembuhan para penderita gangguan jiwa. Masyarakat sekitar dapat memberikan dukungan kepada mereka sehingga kepercayaan diri mereka kembali dan dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya lagi.

Produktif

Salah satu petugas tempat rehabilitasi di RS. Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor, dr. Dewi Amalia Sp.KJ, mengatakan bahwa penderita gangguan jiwa juga bisa produktif dengan melakukan kegiatan rehabilitasi.

Pasien penderita gangguan jiwa tak serta merta diikutkan kegiatan rehabilitasi. Sebelum mengikuti kegiatan rehabilitasi, pasien harus menjalani beberapa tahapan terapi. Pada proses terapi pasien dibuat tenang, lalu saat inilah  pasein diizinkan untuk mengikuti kegiatan rehabilitasi.

Kegiatan rehabilitasi bertujuan agar pasien kembali produktif atau menjadikan mereka orang yang produktif. Sehingga nantinya mereka diharapkan mempunyai kemampuan bekerja dan setidaknya bisa menghidupi dirinya sendiri.

Di RS. Dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor tidak hanya membuat pasien sembuh, tetapi juga membuat pasien menjadi pulih. Dengan kata lain, pasien dikembalikan menjadi orang yang produktif. Setidaknya mereka dapat memenuhi kebutuhannya sendiri saat pulih nanti.

 Saleh Basirudin

Saleh Basirudin atau yang biasa disapa Saleh adalah salah satu pasien RS. DR. H. Marzoeki Mahdi Bogor. Saleh adalah salah satu pasien yang merasakan manfaat dari diadakannnya kegiatan rehabilitasi.

Di tempat rehabilitasi ini Saleh dapat mengembangkan kemampuan keterampilan dan kognitifnya. Beberapa kegiatan yang Saleh ikuti pada kegiatan rehabilitasi untuk mengembangkan keterampilan, seperti mengikuti kelas gerabah, kelas flannel, kelas sulam, kelas tata boga. Kegiatan untuk melatih kognitifnya salah satunya adalah senam otak, tujuannya yaitu untuk melatih otak kanan dan otak kiri.

Penulis : Yolanda

Jurnalistik – PNJ

 

Pages: << First | < Prev | 1 | Next > | Last >>


Komentar Kosong

Komentar Kosong Artikel Ini Belum Memiliki Komentar Satu pun

Silahan isi form komentar dibawah untuk meninggalkan komentar pada artikel ini