iklan_atas (1).jpg
Breaking News
  • Sekdakot : Pemusnahan Barbuk Narkoba Bukti Muspida Kota Bogor Serius Tangani Bahaya Narkoba
  • Najamudin, Politisi Partai PKS Dalam Satu Hari Kunjungi Tiga Kelurahan
  • Dies-Natalis-Ipb-ke-54-Angkat-Tema-Pengarusutamaan-Pertanian
  • Rektor : IPB Satu Dari Seratus PT Terbaik Di Dunia versi QS World University
  • Menteri BUMN Banyak Perkotaan Tak Memikirkan Transportasi Publik
  • Peringati HUT RI Ke 72, Antam Santuni Dua Penderita Lumpuh Layu dan Hydrocephalus
  • Peringati Hari Pramuka : Wali Kota Sematkan Medali Secara Simbolis
  • Kejuaraan 234 Challenge Body Contes 2017 Mampu Menjaring Bibit Atlet Berprestasi

Globalisme Dan Partikularisme Menyebabkan Banyak Konflik

Article
Berita Terkait

Pewarta : Rinaldy,-

Jln Semboja, FOKUSBOGOR.com,-

Menurut sosiolog yang sangat berpengaruh, Anthony Giddens bahwa globalisme dan partikularisme yang menyebabkan banyaknya konflik hanya dapat diredam, dilawan, dikelola, diminimalisir oleh pemikiran atau sosok yang nasionalismenya kosmopolitan. Bukan nasionalisme yang sempit, kelokalan atau nasionalisme yang luntur karena faktor global.

Hal itu disampaikan Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto saat menghadiri Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Haul Almarhum KH. Rd. Abdullah bin Nuh ke-31 dan Haul Almarhumah Ibu Ajengan Hj. Mursyidah binti KH. Abdullah Sayuti ke-7 Yayasan Islamic Centre Al-Ghazaly di SMA Al-Ghazaly, jalan Semboja, Kelurahan Kebon Kelapa Kecamatan Bogor Tengah, Minggu (26/11/2017).

“Nasionalisme kosmopolitan adalah nasionalisme yang kuat, lokal, gagah nasional, gaul ditingkat global, tidak jago kandang, bicara cas cis cus berbagai berbahasa, luwes international, berwawasan luas dan menguasai berbagai ilmu. Itulah nasionalisme kosmopolitan,” kata Bima .

Menurutnya jika menyimak biografi Mama Abdullah Bin Nuh yang sudah disampaikan, pemikiran Mama merupakan pemikiran nasionalisme yang kosmopolitan. Almarhum menguasai lima bahasa yang luar biasa. Bahkan beliau pernah menulis komunisme.

“Jadi kalau kita mau melawan komunis kita harus tahu apa anatomi komunis itu,” jelas Bima.

Disimpulkan, keluasan ilmu dari Mama Abdullah bin Nuh, kelenturan berpikir dan tidak jumudnya cara berpikirnya itu membuat beliau menjadi sosok yang luas pergaulannya, diterima berbagai kalangan dan tidak sembarangan mengkafirkan orang atau kelompok, kata Bima.


“Ini keteladanan yang luar biasa nasionalisme yang bukan lagi kosmopolitan tetapi kosmopolitan plus spritualisme, karena ada ideologi yang sangat kuat terkait dengan nilai religius. Inilah yang saya sebut kekinian atau zaman now, kalau mau disebut kekinian atau zaman now paling tidak kita harus terinspirasi untuk membuka wawasan kita, membuka horison kita dan mencerna berbagai pemikiran dan aliran yang berbeda tidak menutup pergaulan,” paparnya.

Jika semua terinspirasi pemikiran almarhum, maka Bogor tidak akan menjadi kota yang penuh dengan pertentangan. Kota Bogor tidak akan menjadi sarang dari radikalisme, tempat penuh curiga. Kota Bogor adalah tempat yang diwariskan para guru kita sebagai tempat yang guyub, sejuk, nyaman dan damai karena para guru kita termasuk Mama Abdullah Bin Nuh mengajarkan tentang arti kebersamaan dalam keberagaman.

“Persatuan harus diperjuangkan sedangkan keberagaman adalah keniscayaan. Apapun agenda kedepan, baik Pilpres, Pilkada, Pilgub, Pilwalkot dan pemilihan lainnya Insya Allah bangsa kita tetap satu yaitu bersama dalam keberagaman dan kita teladani ajaran dari Mama Abdullah Bin Nuh. Semoga keluarga besar Al-Ghazaly tetap menjadi mata air yang menyejukan bagi Bogor yang damai,” harapnya.

Editor:m firmansyah

Poto:aldy

 

Pages: << First | < Prev | 1 | Next > | Last >>


Komentar Kosong

Komentar Kosong Artikel Ini Belum Memiliki Komentar Satu pun

Silahan isi form komentar dibawah untuk meninggalkan komentar pada artikel ini

MDB Radio 100.50 MHz


>>> Download MDB Radio APP <<<

Script Link MDB Radio


Pencarian

background twitter.jpg
background twitter.jpg

Galeri Teratas