HUT ke-45, Balitbangtan Pamer Tiga Produk Inovasi

BOGORNews.com:::Dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74 dan sekaligus merayakan HUT ke-45, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) meluncurkan tiga produk Inovasi Balitbangtan. Produk Inovasi yang diluncurkan adalah produk-produk nanoteknologi, beras Inpari IR Nutri Zinc untuk atasi stunting, serta Kedelai Biosoy dengan biji besar dan hasil tinggi. Produk Nanoteknologi Ramah Lingkungan Balitbangtan telah menghasilkan sejumlah produk nanoteknologi yang diterapkan pada aspek hulu-hilir pertanian dan pangan dengan berbagai status tahapan pengembangannya seperti bioplastik nanoselulosa limbah pertanian, biodegradable foam (Biofoam), nanobiosilika cair, nanobiopestisida cair,  nanocoating benih, dan nanohidrogel. Nanoteknologi diyakini dapat menjadi salah satu terobosan solusi pembangunan pangan dan pertanian ke depan.  Salah satu produk unggulan yang selaras dengan isu lingkungan adalah produk bioplastik nanoselulosa limbah pertanian dan biodegradable foam (Biofoam). Bioplastik umumnya diproduksi dari pati khususnya pati singkong. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, pihaknya akan terus mengembangkan inovasi plastik dengan bahan tapioka dan ubi kayu. Ia berharap, secepatnya bisa dikomersilkan. "B100 sudah selesai, Insha Allah tinggal dikomersilkan. Saya minta kepada Litbang agar plastik ini sudah bisa diterapkan,"ujar Imran Sulaiman kepada Bogornews.com, Kamis (22/08/2019). "Ke depan saya juga minta agar botol air kemasan bisa juga dibuat dengan menggunakan ubi kayu atau komoditas lain yang ramah lingkungan supaya alam ini bisa terjaga kelestariannya dengan baik,"imbuhnya lagi. Amran menyadari, penggunaan plastik dengan bahan ubi kayu dan tapioka sangat tinggi. Namun demikian baginya yang terpenting plastik dengan bahan ubi kayu bisa digunakan untuk berbagai keperluan. "Tahun depan plastik ini sudah bisa masuk pasar, lebih cepat malah lebih baik. Saya bersyukur sudah ada beberapa kerjasama,"pungkasnya. Keunggulan plastik inovasi Balitbangtan adalah mudah terurai secara alami dalam waktu sekitar 60 hari. Penggunaan limbah pertanian sebagai bahan baku nanoselulosa mampu mengurangi pencemaran akibat limbah yang tidak tertangani dengan baik.   "Biaya atau harga jual bioplastic umumnya 3 hingga 3,5 kali lebih mahal dari plastik konvensional atau sekitar Rp 700 – Rp 2.000 per kantong. Namun dengan keunggulannya terhadap kelestarian lingkungan diharapkan ke depan ada intervensi pemerintah untuk bisa menurunkan harga bioplastic agar bisa bersaing dengan produk plastik konvensional," ujar Kepala Balitbangtan Fadjry Djufry. Sementara itu Wakil Walikota Bogor, Dedie A. Rachim yang hadir dalam acara tersebut memberikan apresiasi yang tinggi terhadap Kementerian Pertanian khusus Balitbangtan yang telah membuat beberapa inovasi pertanian, salah satunya adalah plastik dengan bahan ubi kayu. "Pemkot Bogor akan mendorong agar hasil riset ini bisa masuk industri retail bilamana sudah ada industrinya. Saat ini kita masih dalam tahap pelarangan menggunakan plastik yang tidak ramah lingkungan." "Mungkin saja jika sudah menjadi industri yang besar, plastik dari ubi kayu ini bisa kompetitif dan bersaing dengan plastik konvensional, plastik ubi kayu ini bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan,"ucapnya.(DimasFery)

HUT ke-45, Balitbangtan Pamer Tiga Produk Inovasi
BOGORNews.com:::Dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74 dan sekaligus merayakan HUT ke-45, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) meluncurkan tiga produk Inovasi Balitbangtan. Produk Inovasi yang diluncurkan adalah produk-produk nanoteknologi, beras Inpari IR Nutri Zinc untuk atasi stunting, serta Kedelai Biosoy dengan biji besar dan hasil tinggi. Produk Nanoteknologi Ramah Lingkungan Balitbangtan telah menghasilkan sejumlah produk nanoteknologi yang diterapkan pada aspek hulu-hilir pertanian dan pangan dengan berbagai status tahapan pengembangannya seperti bioplastik nanoselulosa limbah pertanian, biodegradable foam (Biofoam), nanobiosilika cair, nanobiopestisida cair,  nanocoating benih, dan nanohidrogel. Nanoteknologi diyakini dapat menjadi salah satu terobosan solusi pembangunan pangan dan pertanian ke depan.  Salah satu produk unggulan yang selaras dengan isu lingkungan adalah produk bioplastik nanoselulosa limbah pertanian dan biodegradable foam (Biofoam). Bioplastik umumnya diproduksi dari pati khususnya pati singkong. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, pihaknya akan terus mengembangkan inovasi plastik dengan bahan tapioka dan ubi kayu. Ia berharap, secepatnya bisa dikomersilkan. "B100 sudah selesai, Insha Allah tinggal dikomersilkan. Saya minta kepada Litbang agar plastik ini sudah bisa diterapkan,"ujar Imran Sulaiman kepada Bogornews.com, Kamis (22/08/2019). "Ke depan saya juga minta agar botol air kemasan bisa juga dibuat dengan menggunakan ubi kayu atau komoditas lain yang ramah lingkungan supaya alam ini bisa terjaga kelestariannya dengan baik,"imbuhnya lagi. Amran menyadari, penggunaan plastik dengan bahan ubi kayu dan tapioka sangat tinggi. Namun demikian baginya yang terpenting plastik dengan bahan ubi kayu bisa digunakan untuk berbagai keperluan. "Tahun depan plastik ini sudah bisa masuk pasar, lebih cepat malah lebih baik. Saya bersyukur sudah ada beberapa kerjasama,"pungkasnya. Keunggulan plastik inovasi Balitbangtan adalah mudah terurai secara alami dalam waktu sekitar 60 hari. Penggunaan limbah pertanian sebagai bahan baku nanoselulosa mampu mengurangi pencemaran akibat limbah yang tidak tertangani dengan baik.   "Biaya atau harga jual bioplastic umumnya 3 hingga 3,5 kali lebih mahal dari plastik konvensional atau sekitar Rp 700 – Rp 2.000 per kantong. Namun dengan keunggulannya terhadap kelestarian lingkungan diharapkan ke depan ada intervensi pemerintah untuk bisa menurunkan harga bioplastic agar bisa bersaing dengan produk plastik konvensional," ujar Kepala Balitbangtan Fadjry Djufry. Sementara itu Wakil Walikota Bogor, Dedie A. Rachim yang hadir dalam acara tersebut memberikan apresiasi yang tinggi terhadap Kementerian Pertanian khusus Balitbangtan yang telah membuat beberapa inovasi pertanian, salah satunya adalah plastik dengan bahan ubi kayu. "Pemkot Bogor akan mendorong agar hasil riset ini bisa masuk industri retail bilamana sudah ada industrinya. Saat ini kita masih dalam tahap pelarangan menggunakan plastik yang tidak ramah lingkungan." "Mungkin saja jika sudah menjadi industri yang besar, plastik dari ubi kayu ini bisa kompetitif dan bersaing dengan plastik konvensional, plastik ubi kayu ini bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan,"ucapnya.(DimasFery)